Saturday, November 11, 2006

KIE…Apa Itu?
Bagian 1

Dalam dunia kedokteran, ada istilah yang sangat terkenal (setidaknya di Fakultas Kedokteran Unibraw Malang, entah kalau istilahnya lain di fakultas lain)….KIE (Noun, Kata Benda;dibaca dengan dieja perhuruf, tidak dibaca langsung)..
KIE adalah kepanjangan dari Keterangan Informasi Edukasi. KIE ini adalah salah satu bentuk ilmu yang menjadi bekal mahasiswa kedokteran dalam praktik klinis, baik ketika masih Koas ataupun ketika sudah dokter. Sesuai dengan 3 kata yang menyusunnya, memberikan KIE berarti memberikan keterangan, informasi, dan edukasi pada pasien mengenai penyakit yang diderita pasien, selengkap mungkin, dari A-Z, tentunya dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti oleh pasien yang tidak mengenyam pendidikan medis.
KIE adalah suatu bentuk ilmu komunikasi yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan dokter di manapun, apalagi ditambah semakin banyaknya kasus DUGAAN MALPRAKTIK di Indonesia. Ketika mengikuti pendidikan pre klinik, beberapa dokter ilmu klinik seperti interne, bedah, dll, selalu memberikan slide mengenai KIE penyakit tertentu ketika kuliah. Sayapun menjadi Koas dengan segudang idealisme untuk memberikan KIE sebaik-baiknya pada pasien.
Koas pertama saya adalah di interne. Suatu tempat yang sangat sempurna untuk berlatih memberikan KIE. Kemudian, dalam perjalanan saya menjadi Koas selama setahun, hingga saat ini (telah melewati interne, bedah, anestesi, obgyn, anak), saya menemukan kenyataan bahwa memberikan KIE pada pasien seringkali tidak semudah yang dibayangkan.
Tiga hambatan utamanya (terutama di RS pendidikan), menurut saya adalah:
- kemampuan KIE dokter yang kurang. Seringkali dokter memberikan KIE dengan bahasa medis yang tidak dimengerti pasien, atau KIE yang diberikan tidak lengkap, hanya sebagian dari penyakit pasien
- latar belakang pendidikan keluarga pasien yang kurang, (terutama pasien GAKIN) sehingga kemampuan untuk menerima informasi juga terbatas.
- PPDS tidak cukup waktu untuk berkomunikasi dengan pasien, ini memang semacam dilema. Karena 1 orang PPDS harus menangani 30-40 pasien, dan sangat mustahil untuk dapat memberikan KIE dengan baik pada tiap pasien

KIE yang kurang baik akan menempatkan pasien dalam posisi yang lebih inferior dari dokter, hal ini jelas-jelas menyalahi prinsip hubungan dokter-pasien yang seimbang. Seringkali pasien tidak memahami penyakit yang dideritanya, dan seringkali pula pasien hanya bisa pasrah terhadap segala bentuk tindakan yang diterimanya (tindakan terapi dan diagnostik) tanpa menanyakan maksud dan tujuannya.
Untuk dapat memberikan KIE yang baik, menurut saya, seorang dokter setidaknya harus memiliki 3 hal sbb:
- Ilmu dan pengetahuan yang memadai mengenai penyakit yang diderita pasien.
- Ilmu komunikasi yang baik
- Rasa simpati terhadap pasien
Tidak mudah memang bagi mahasiswa kedokteran, bahkan dokter, untuk dapat memberikan KIE dengan baik. Dibutuhkan proses untuk itu. Saya sendiri hingga saat ini masih belajar dan belajar, dan saya merasa sangat beruntung karena rumah sakit tempat saya menimba ilmu memberikan banyak peluang untuk itu.
Tulisan singkat ini hanya sekedar pengantar untuk tulisan saya selanjutnya, yang akan membahas lebih dalam mengenai KIE. Saya tunggu komentarnya...

Thursday, August 10, 2006

Koneksi Internet dengan CDMA + Starone Pasca Bayar + Tips dan Trik

Pesatnya teknologi informasi memang memberikan berbagai kemudahan bagi kita. Salah satunya adalah semakin banyak pilihan untuk koneksi internet. Dengan berbekal hp CDMA 6235 + kabel data dku-2 original + kartu pasca bayar Starone dengan paket internet Rp.100.000 untuk 350 mb/bulan, saya sudah bisa connect internet dari rumah. 350mb untuk 1 bulan sih memang relatif sedikit, tetapi saya jarang sekali menggunakan internet untuk download, hanya untuk buka, tulis email, cari jurnal, dsb. Sehingga 35o mb sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya.
Namun, ada pengalaman yang kurang mengenakkan dengan starone pada awal pengaktivannya. Saya sempat susah connect selama 3 hari, koneksi terputus otomatis tiap 10 menit. Awalnya saya pikir masalah ada pada setting atau kabel data. Tapi untunglah saat ini koneksi sudah lancar tanpa gangguan.
Untuk yang berminat menggunakan nokia CDMA nya sebagai modem untuk koneksi seperti saya, saya sarankan untuk menggunakan nokia tipe 6235/ke atas saja (3155, 6155, 6265, 6255). Pertimbangannya sebagai berikut:
1. HP Nokia CDMA tipe di bawah 6235 (mulai 6585, 3125, 6225, 2112, 2116, 2115i, dll) membutuhkan kabel data nokia original tipe dku-5 (sudah tidak diproduksi) dan CA-42 (yang sekarang ada). Harga kabel data ori CA-42 adalah Rp.375.000, atau bisa menggunakan kabel CA-42 merk Mobile-Action, tapi susah cari barangnya. Masalahnya, di Malang dan Surabaya kabel data CA-42 juga habis. Apakah tidak bisa memakai kabel KW/non ori yang seharga 50-70rb? Jawabannya bisa, jika anda hanya membutuhkan untuk transfer data (gambar, ringtone, dsb). Tapi jika anda membutuhkan untuk koneksi internet, maka lupakan saja. Saya sudah pernah mencoba sendiri kabel non ori seharga 60 rb yang menurut promosi tokonya sih bisa untuk internet dengan jaminan uang kembali. Ketika saya coba pertama kali memang bisa c0nnect, tetapi tiap 5 menit langsung disconnect. Apakah bukan masalah jaringan? Bukan! karena saya menggunakan dua kartu berbeda, dan keduanya tidak bisa tidak bisa konek.
2. HP Nokia CDMA tipe 6235 dan diatasnya membutuhkan kabel data nokia DKU-2 (sudah tidak diproduksi) dan CA-53 (Rp 300.000). Di Malang dan Surabaya juga habis...Kenapa saya menyarankan anda memakai nokia tipe ini?? Karena, kabel DKU-2 terdapat pada semua hp Nokia GSM dengan tipe diatas 7610. Artinya, kabel ini termasuk dalam bundling pembelian. Artinya jika anda kebetulan punya nokia GSM tipe 7610, 6670, 6630, 6681, 6680, 6270, 6280, 9500, 9300, dll, anda akan mendapatkan kabel data Nokia DKU-2 (pada beberapa produk yang baru diproduksi anda akan mendapatkan kabel CA-53). Sedangkan untuk nokia N Series, dalam bundlingnya terdapat kabel data CA-53. Seandainyapun anda tidak memiliki Nokia GSM seri diatas, tetap saya sarankan untuk membeli 6235, dengan pertimbangan anda dapat meminjam kabel teman anda, toh mereka yang memiliki hp diatas akan lebih memilih card reader untuk memindah data ke MMC (hehehe..)

Radar Malang, Kamis 10 Agustus 2006

SUNGSANG, LAHIR KEPALA PUTUS
Batu- Dunia kedokteran di Malang Raya gempar. Seorang bidan bernama Linda Handayani, warga Jl. Pattimura Gg I Kota Batu, melakukan malpraktik saat menangani proses persalinan. Akibatnya, pasien bernama Nunuk Rahayu, 39, tersebut terpaksa melahirkan anak ketiganya dengan hasil mengerikan. Bayi sungsang itu lahir dengan leher putus. Badan bayi keluar duluan, sedangkan kepalanya tertinggal di dalam rahim.
Kejadian ini membuat suami Nunuk, Wiji Muhaimin, 40, kalut bukan kepalang.Bayi yang diidam idamkan selama 9 bulan 10 hari itu ternyata lahir dengan cara yang sangat memprihatinkan. "Saya sedih sekali, tak tega melihat anak saya," ujar Muhaimin.
Terkait kronologi kejadian ini, pria berkumis tebal tersebut menjelaskan, istrinya Selasa sore lalu mengalami kontraksi. Melihat istrinya ada tanda-tanda melahirkan, Muhaimin membawa istrinya ke bidan Linda Handayani, yang tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Begitu memasuki waktu shalat Magrib, dia pulang untuk shalat.
Muhaimin mengaku tidak punya firasat apa-apa sebelum peristiwa tersebut terjadi. Selama ini dia yakin kalau istrinya akan melahirkan normal. "Nggak ada firasat apa-apa. Ya normal-normal saja," katanya.
Kemarin, istrinya masih belum bisa diwawancarai. Pasalnya, Nunuk masih terbaring lemah di BKIA. Ia tampaknya masih tidur dengan pulas. Kemungkinan, pulasnya tidur Nunuk tersebut akibat pengaruh obat bius malam harinya.
Menurut Muhaimin, dia sangat sedih ketika melihat bayinya tanpa kepala dengan ceceran darah di leher. Dia merasa antara percaya dan tidak melihat kondisi itu. Namun, dia sedikit lega bisa melihat anaknya ketika badan dan kepalanya disatukan. Menurut dia, bayi itu sangat mungil dan cantik, kulitnya masih merah, dan rambutnya ikal. "Saya ciumi dan usap wajahnya, sambil menangis," kata Muhaimin dengan mata berkaca-kaca.
Meski kejadian ini dirasakan sangat berat, Muhaimin akhirnya bisa juga menerima dan menganggap ini takdir Tuhan. Tetapi untuk kasus hukumnya, dia tetap menyerahkan ke yang berwenang. Dia berharap kasus ini bisa ditindaklanjuti dengan seadil-adilnya.
Dari penuturan beberapa warga sekitar, sebenarnya bidan Handayani adalah sosok bidan yang berpengalaman dan senior. Dia sudah praktik puluhan tahun. Dengan demikian, masyarakat juga merasa kaget mendengar kabar mengerikan itu datang dari bidan Handayani.
Kabar ini juga menyentak kalangan DPRD kota Batu. Menurut ketua Fraksi Gabungan Sugeng Minto Basuki, bidan Handayani memang sangat terkenal di Batu. Kata dia, umurnya sudah 60 tahun lebih. Namun, atas kasus ini dia meminta dinas kesehatan melakukan recovery lagi terhadap para bidan yang ada di Batu. Dengan demikian kasus mengerikan semacam ini tidak akan terulang lagi. "Saya juga meminta polisi segera mengusut kasus ini. Kalau perlu izin praktiknya dicabut," katanya.

----------------------------------------------------------------

Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan terkait berita ini.
1. Kejadian menyebut istilah "malpraktik" dengan sembarangan terjadi lagi..benar-benar sangat menjengkelkan. Apa susahnya menambahkan kata "dugaan" untuk kasus2 sensitif seperti ini. Kalangan pers harus benar-benar fair dalam menggunakan kata-kata, sehingga tidak terbentuk suatu opini publik yang merugikan pihak/profesi tertentu.
2. Uji kompetensi yang diwajibkan pemerintah untuk profesi dokter tampaknya harus dikaji ulang, karena sesungguhnya uji kompetensi dibutuhkan untuk semua profesi yang berhubungan dengan kesehatan. Dokter, perawat, dan bidan seharusnya juga diuji kompetensi. Sehingga tidak ada kesan diskriminasi untuk profesi dokter.